Amanat dan Moral dalam Sastra

Sejak lama, banyak yang meyakini bahwa karya sastra mengandung nilai-nilai moral. Ada amanat yang hendak disuguhkan kepada pembaca. Pendapat ini, secara tidak langsung menempatkan karya sastra dalam posisi yang tinggi. Dan tentu, saudara juga pernah mendengar, bahwa sastra juga kerap dideretkan dengan filsafat dan agama. Sebab ketiganya, sama-sama berbicara tentang manusia (meskipun dengan caranya masing-masing).

Akan tetapi, setidaknya ada dua problem yang kemudian muncul. Pertama, dengan pendapat seperti ini, karya sastra seolah dituntut untuk menyampaikan yang “baik-baik” saja menurut ukuran moral. Sehingga, banyak juga karya sastra yang lahir normatif, kaku, dan seperti berkhotbah di atas mimbar tentang ini yang benar, dan ini yang salah.

Nah, dari sana, timbul problem kedua, padahal karya sastra juga dituntut untuk mengejar “keindahan-keindahan,” dengan semangat kreativitas yang tinggi. Sehingga kemudian, ada karya sastra yang lahir dengan menyuguhkan kisah-kisah yang tidak sesuai dengan norma-norma moral itu sendiri. Kisah-kisah yang menghadirkan apa yang tidak seharusnya (menurut moral) terjadi.

Lalu, bagaimana mestinya kita menyikapi dua problem ini?

Karya sastra mengandung nilai-nilai moral, itu benar. Akan tetapi tidak serta-merta nilai-nilai itu tergambar dalam kenyataan/kisah yang positif saja dalam kacamata moral. Ingat, bahwa sastra bukanlah parasetamol yang bisa sesegera mungkin dapat menurunkan demam. Karya sastra justru menghadirkan berbagai realitas kehidupan manusia sebagaimana adanya.

Bukankah dalam kehidupan kita ini, ada yang namanya maling, perampok, pembunuh, penipu, koruptor, pelacur, dan sebagainya? Maka ketika karya sastra berbicara tentang mereka (yang dianggap negatif oleh ukuran moral) tidak pula membuat kita mengklaim karya sastra itu menjadi negatif pula. Budi Darma (seorang sastrawan dan juga kritikus sastra) bilang begini, “Karya sastra yang baik akan mengajak pembaca melihat karya tersebut sebagai cermin dirinya sendiri. Dengan jalan menimbulkan “pathos,” yaitu simpati terhadap dan merasa terlibat dalam peristiwa mental yang terjadi dalam karya tersebut….”

Jadi, saudara jangan cepat-cepat mengklaim (menganggap) sebuah karya sastra bernilai negatif, karena mungkin di dalamnya terkandung berbagai tindakan kejahatan yang amoral. Justru, dari sana, dari kenyataan-kenyataan semacam itu, nilai-nilai moral tersirat dan menyimpan berbagai amanat tentang kebaikan.
Dengan begitu, saudara tak perlu terlalu risau untuk harus menuliskan ini yang benar, dan itu yang salah dalam karya kita. Risau karena karya kita itu tidak mengandung nilai-nilai moral. Tak perlulah kiranya saudara menghadirkan tokoh seorang guru untuk menyampaikan amanat tentang kebenaran. Tak perlu pula harus hadir di sana tokoh seorang ustad untuk menjelaskan tentang kebenaran. Sebab, dalam sastra, kebenaran itu justru berhasil digali ketika ia telah berhasil menjadi cermin diri kemanusiaan kita.

Cerpen karya Sunny, berjudul “Satu Waktu Tiga Hati” hadir pekan ini. Tema cinta mengemuka sebagai ruang tarik menarik yang cukup dinamis, meski mungkin masih terkesan klise. Tapi, setidaknya kita bisa nikmati cara bertutur Sunny, dengan narasi-narasi yang kadang puitis, dan kadang mengalir.

Berikut, ada dua puisi cukup pendek, yang mungkin cukup menarik kita gali. Terutama tentang kesederhanaan diksi, dan kedalaman maknanya. Puisi “Bebas” karya Melody misalnya, makna kebebasan diimajikan dengan metafora alam. Meski “aku berlari” di sana, memberi banyak kesan pada kita, apa yang menjadi sebab dia berlari. Sementara puisi “Dua Mei Suatu Pagi” karya Srikartini Widya Ningsih lebih membuat kita dengan segera merujuk tentang angka tanggal dan bulan yang disebut dalam judul. Apalagi kemudian, empati kita segera pula bangkit, karena ujung puisi ini mengarah “pada bangunan sekolah yang memuing, persis seperti hatinya.”
Puisi berikut, ada Retno Mustika dengan “Sebuah Harapan.” Kisah penantian, berharap seseorang akan tiba, dengan deskripsi alam yang cukup terbangun. Meski, Retno harus lebih gigih lagi membangun diksi yang lebih personal, yang lebih “tak biasa.” Agaknya, akan senada pula puisi ini dengan puisi Zulkarnain, berjudul “Bening.” Terbangun di sana permainan imaji alam yang cukup baik. Meski di beberapa tempat agak longgar, dan terkesan-kesan melompat-lompat.

Puisi terakhir, ada Sukardi, dengan “Pengasingan Ini.” Sebuah puisi cukup panjang dan cukup kuat memainkan impresi pembaca. Ada kematangan, juga kedalaman di sana. Keteguhan si “aku lirik” dalam pengasingan, dalam diksi-diksi, membuat puisi ini menjadi kokoh dan enak dinikmati. Dan bait terakhir puisi ini, menurut saya, adalah sebuah kenikmatan lain yang mesti kita apresiasi. Semoga***

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: